Subscribe:

Ads 468x60px

Rabu, 05 Desember 2012

Yang Benar Saja Salah, Apalagi yang Salah??!

     "Yang BENAR saja SALAH, apalagi yang SALAH??!!". Mungkin kalimat tersebut sudah tidak asing lagi di telinga kita,masyarakat Indonesia. Mengingat begitu banyak peristiwa-peristiwa/kejadian-kejadian yang mengganjal terjadi di negeri ini. Terkadang sesuatu yang BENAR bisa menjadi SALAH (bukan terkadang si,tapi kebanyakan memang begitu.heheh...),apalagi hal yang SALAH. Bahkan sesuatu yang SALAH bisa berubah menjadi BENAR. Ya,itulah ajaibnya negeri ini. Berbagai macam perbedaan kepentingan telah menimbulkan konflik-konflik yang timbul,sehingga tidak ada lagi KEBENARAN yang sesungguhnya,yang ada hanyalah KEBENARAN yang dipaksakan menjadi benar.
     Situasi dan kondisi seperti ini tidak bisa dianggap sebagai hal yang biasa, Situasi dan Kondisi seperti ini telah menimbulkan teror di masyarakat. Telah menyebabkan masyarakat menjadi takut untuk mengungkapkan suatu kebenaran. Kepercayaan masyarakat akan pihak-pihak pembuatan keputusan telah menurun drastis. Sehingga terjadi suatu sistem yang tidak sehat dan tidak seimbang di dalam kehidupan bermasyarakat, dimana interaksi dan komunikasi sudah tidak berjalan dengan baik. Sehingga masyarakat lebih memilih diam daripada berbicara dan bertindak.
     Tentunya pihak-pihak pembuat keputusan juga tidak bisa di salahkan sepenuhnya. Mungkin mereka juga sudah "terbutakan" oleh suatu proses yang sudah terselimuti dengan konflik-konflik kepentingan. Bisa saja prosesnya yang telah di "modifikasi" sehingga menimbulkan penafsiran berbeda dari si pembuat keputusan, sehingga keputusan yang di ambil menjadi salah. Atau proses pengidentifikasian kebenaran sudah betul, tetapi si pembuat keputusan yang membuat sebuah kesalahan berkedok kebenaran.
     Parahnya lagi,situasi ini berdampak kepada sistem kehidupan dalam skala kecil. Dalam hubungannya masyarakat dengan masyarakat di lingkungan tempat tinggal,lingkungan kerja,bahkan lingkungan keluarga. Sisi positifnya,membuat kita lebih berhati-hati dalam mengidentifikasi suatu kebenaran,apakah kebenaran itu memang benar adanya. Ataukah kebenaran itu hanyalah sebuah kesalahan yang berkedok kebenaran, atau kebenaran yang di paksa menjadi benar. Pastinya hal ini akan menimbulkan sebuah kebingungan. Ya,dalam kondisi seperti ini,keyakinan kitalah yang memiliki peran paling besar.
     Marilah kita mulai menilai suatu kebenaran berdasarkan realita keyakinan yang telah diajarkan oleh Allah SWT. Berdasarkan surah At-Takaasur 102:5-8, keyakinan akan suatu kebenaran dibagi kedalam tiga tingkatan, yaitu:
  1. Ilmul Yaqin; Keyakinan akan suatu kebenaran berdasarkan ilmu, yaitu mengetahui suatu kebenaran dengan cara mempelajari ilmu yang sudah ada mengenai pengetahuan tentang hal tersebut. ‘Ilmul Yaqin bisa dijadikan sebagai salah satu dasar pembenar suatu fakta yang objektif dalam taraf yang paling rendah. Tetapi walaupun ilmu didapat berdasarkan fakta kebenaran, adakalanya dalam penyampaian ilmu tidak tersampaikan secara sempurna, entah karena kelemahan pembawa ilmu atau si penerima ilmu. Dengan demikian ‘Ilmu Yaqin belum tentu menghasilkan kebenaran yang objektif.
  2. Ainul Yaqin; Keyakinan akan suatu kebenaran berdasarkan penyaksian, yaitu mengetahui suatu kebenaran dengan cara melihat langsung fakta yang ada.  Ainul Yaqin menjadi dasar pembenar yang lebih objektif atas fakta suatu kebenaran. 
  3. Haqqul Yaqin; Keyakinan akan suatu kebenaran berdasarkan pengalaman, yaitu mengetahui suatu kebenaran dengan cara mengalaminya langsung. Haqqul Yaqin menjadi dasar pembenar yang paling objektif atas fakta suatu kebenaran. Karena orang bisa mengetahui fakta suatu kebenaran berdasar pengalaman yang dialami sendiri, sehingga sulit terbantahkan kebenarannya.
Allah SWT berfirman dalam Q.S Al Khfi 18:29, “Dan katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Tuhan mu, maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa ingin (kafir) biarlah ia kafir…”. Pada hakikatnya kebenaran memang hanya milik Allah swt semata, tetapi manusia sebagai makhluk ciptaan Nya memiliki keistimewaan dikaruniai akal untuk berpikir, dapat digunakan mendapat fakta suatu kebenaran yang paling objektif melalui ‘Ilmul Yaqin, ‘Ainul Yaqin dan Haqqul Yaqin.